Article Detail

KORUPSI, BUDAYA ORANG INDONESIA ?

Korupsi, adalah kata yang sudah tidak asing di telinga kita. Di Indonesia, korupsi bukanlah hal baru dan sering dianggap remeh bagi sebagian orang. Apakah kalian yakin bahwasanya kalian belum mencicipi hal yang disebut korupsi ini?

Sebenarnya, apa definisi dari korupsi sendiri? Korupsi diambil dari kata korup yang berarti rusak. Sehingga, korupsi dapat didefinisikan sebagai kerusakan yang dilakukan oleh seseorang atau suatu organisasi. Adapun jenis-jenis dari korupsi, yang dijabarkan sebagai berikut;

  • Melanggar Norma Sosial

Melanggar norma sosial menjadi salah satu bentuk dari korupsi. Sebagai contoh seperti berbohong, mengingkar janji, dan lain sebagainya. Namun dalam hal ini tidak ada sanksi pidana yang menjadi hukuman atas tindakan tersebut, hanya saja pelaku dari tindakan ini biasanya mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat sekitar.

  • Melanggar Peraturan Tertulis yang dapat Diberi Sanksi Administratif

Melanggar aturan tertulis ini sering terjadi di sekolah. Seperti mencontek, berangkat tidak sesuai waktu, menggunakan seragam tidak lengkap, dan lain sebagainya. Berbeda dari tindakan korupsi sebelumnya, tindakan ini biasanya diberi sanksi yang lebih berat, seperti surat peringatan, hingga panggilan kepada orang tua.

  • Melanggar Hukum Pidana

Melanggar hukum pidana adalah tindak korupsi paling besar. Tindakan korupsi ini sudah tidak lagi merugikan masyarakat sekitar dan sekolah, namun tindakan ini sangat merugikan negara. Seperti, menggunakan uang perbaikan jalan untuk berfoya-foya, menggunakan uang perbaikan sekolah untuk keperluan pribadi, dan lain sebagainya. Tindakan korupsi ini bisa mendapatkan sanksi tindak pidana. Namun, hukuman bagi para koruptor di negeri kita ini masih sangat kurang. Sehingga, koruptor-koruptor di luar sana masih menyepelekan hal ini, dan menjadikan angka korupsi di Indonesia masih sangat tinggi.

Apakah korupsi memberikan dampak negatif kepada kita? Pasti. Korupsi memberikan banyak sekali kerugian untuk kita semua. Tidak hanya kepada kita sebagai warga negara, namun juga memberikan kerugian yang sangat besar untuk kemajuan negara kita. Ada beberapa bentuk tindak pidana korupsi, sebagai berikut;

  • Merugikan Keuangan Negara

Contohnya, menggunakan uang yang seharusnya untuk memperbaiki fasilitas umum justru digunakan untuk membangun rumah milik pribadi. Tentu hal-hal seperti ini sangat merugikan negara, uang yang seharusnya bisa untuk kemajuan negara, justru digunakan untuk kepentingan pribadi.

  • Gratifikasi

Gratifikasi hampir mirip dengan suap. Perbedaannya, gratifikasi timbal baliknya secara tidak langsung. Kebanyakan orang memberikan barang kepada orang dengan harapan akan diberi imbalan dari orang tersebut.

  • Pemerasan

Contohnya, orang yang akan masuk ke dalam suatu organisasi harus mau memberikan segala hal yang diinginkan oleh anggota organisasi tersebut.

  • Suap

Seperti, memberikan uang atau barang kepada orang lain agar dirinya bisa diterima dalam suatu organisasi atau dinaikkan jabatannya dalam suatu organisasi.

  • Perbuatan Curang
  • Penggelapan dalam Jabatan
  • Benturan Kepentingan dalam Pengadaan

Lalu, bagaimana cara kita melawan tindakan korupsi ini? Tindakan korupsi dapat kita lawan mulai dari diri kita sendiri. Sebagai anak muda, kita harus mulai belajar memilah hal-hal yang baik dan hal-hal buruk yang menjadi pemicu munculnya karakter korupsi dalam diri kita. Adapun 9 + 1 nilai integritas yang bisa menjadi pedoman kita untuk melawan korupsi, sebagai berikut:

  • Jujur
  • Peduli
  • Mandiri
  • Disiplin
  • Tanggung jawab
  • Kerja keras
  • Sederhana
  • Berani
  • Adil
  • Sabar

Salah satu faktor dari korupsi adalah adanya seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin bisa memberikan instruksi kepada anggotanya dengan baik, anggota-anggota di bawahnya pasti akan melakukan hal yang baik pula. Pemimpin yang baik akan menghasilkan anggota yang baik, begitu pun sebaliknya. Namun, apakah seorang pemimpin ini perlu? Apakah pemimpin adalah sebuah keharusan yang harus ada di setiap waktu?

  • We Need Leadership To Survive

Jawabannya adalah iya. Kenapa harus ada pemimpin? Kita ibaratkan seperti ini. Kita manusia bukanlah makhluk hidup paling kuat yang ada di bumi ini. Jika kita pergi ke kandang harimau sendirian, bisakah kita keluar dari sana dengan keadaan yang utuh? Lalu apakah bisa kita melawan monster dengan diri kita sendiri? Pasti jawabannya adalah tidak. Di setiap masalah, manusia pasti membutuhkan orang lain untuk memecahkannya. Sedangkan, setiap manusia pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Di sinilah fungsi dari pemimpin itu. Pemimpin menjadi penyatu dan penyaring dari segala pemikiran anggota-anggotanya, sehingga terciptalah tujuan dan kekuatan bersama untuk memecahkan suatu masalah.

  • Leaders are Made, Not Born

Pemimpin itu dibuat, tidak dilahirkan. Jadi, jika ada pernyataan yang mengatakan bahwa, “saya lahir tidak untuk menjadi pemimpin,” itu adalah pernyataan yang salah. Kenapa? Karena setiap orang PASTI bisa menjadi seorang pemimpin. Itu kembali lagi pada diri mereka sendiri, apakah mereka merasa mampu dan mau menjadi seorang pemimpin atau tidak. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, dan hal ini bisa kita latih dengan berbagai hal. Seperti, belajar berbicara di depan banyak orang, belajar untuk mengontrol organisasi, belajar untuk membuat event, dan lain sebagainya.

  • Talent vs Consistency

“Aku ga punya bakat,” “Itu bukan bakat aku,” dan banyak lagi pernyataan-pernyataan sejenis yang sering diucapkan oleh anak-anak muda. Itu semua bukan masalah bakat, namun konsisten. Jika kamu mau suatu hal, dan kamu bisa konsisten dalam menjalankan hal tersebut, pasti kalian bisa. Bakat itu bisa dibentuk, asalkan kalian konsisten dalam menjalankannya.

  • Overthinking

Kalian pasti sering mendengar hal yang satu ini. Apakah ini hal yang buruk? Pasti tidak. Apakah ini hal yang baik? Tidak bisa juga dibilang seperti itu. Overthinking adalah hal yang baik jika kalian memikirkan masa depan kalian, bukan mikirkan masa lalu kalian dan berlarut-larut dalam hal itu. Tidak ada orang yang melarang kalian untuk berfikir, namun berfikirlah secukupnya saja.

Dari semua poin-poin di atas, saya menyadari bahwa korupsi bisa muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kita jumpai. Dan dari kebiasaan kecil ini, bisa menjadi pemicu tumbuhnya karakter korupsi dalam pribadi kita. Jika korupsi merupakan budaya negatif bangsa kita, kita sebagai generasi penerus harus mampu untuk menghapus hal yang disebut “budaya” itu. Karena budaya seharusnya menunjukkan hal yang positif, bukan sebaliknya. (Bu-Was)

Ditulis oleh :

Benedikta Chelsy Herditya, Kelas XI Kuliner 1

Hasil Mengikuti Pembekalan Duta Anti Korupsi/Integritas/Pelajar SMA/SMK

se-Provinsi Jawa Tengah, yang diselenggarakan pada Sabtu, 13 Juli 2024

di SMA Negeri 1 Semarang,

Jl. Taman Menteri Supeno No.1, Mugassari, Kec. Semarang Selatan,

Kota Semarang, Jawa Tengah 50249

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment