Article Detail
TERUS BERGERAK MELANJUTKAN PERJUANGAN
SMK
Pius X Magelang mengadakan Upacara Bendera Hari Pahlawan, 10 November 2025 yang
diikuti oleh seluruh guru, karyawan dan siswa. Pembina upacara, An.
Krismanto, S. Pd menyampaikan sebuah renungan di hari pahlawan : Siapakah
sosok pahlawan dalam benak Anda? Apa yang membuat Anda terinspirasi oleh sepak
terjang mereka? Hal-hal baik apa sajakah yang selama ini dapat Anda
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan
sederhana tersebut, bolehlah sesekali kita resapi dan renungkan dalam benak
kita. Sejak kecil, baik di bangku sekolah maupun di tengah keluarga, kita telah
diperkenalkan dengan berbagai figur kepahlawanan, khususnya pahlawan-pahlawan
yang dinyatakan sebagai sosok yang berjasa dalam meraih kemerdekaan Indonesia.
Bahkan, figur pahlawan-pahlawan nasional di dunia nyata tersebut, mungkin juga
bersaing di hati kita dengan pahlawan-pahlawan super yang menghipnotis kita
dengan berbagai kekuatan istimewa, meskipun hanya fiksi belaka.
Namun,
apakah sejatinya makna pahlawan bagi kita? Benarkah kita hanya akan bisa jadi
pahlawan karena memiliki kontribusi dalam peperangan meraih kemerdekaan di masa
lalu? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan didefinisikan sebagai
orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela
kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero. Pahlawan dapat juga didefinisikan
sebagai orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam
membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.
Merunut
pada berbagai peristiwa yang tercatat dalam sejarah perjalanan Republik
Indonesia, sosok pahlawan-pahlawan tersebut lahir dari situasi atau kondisi
yang dialami oleh suatu bangsa. Misalnya, sosok Cut Nyak Dhien yang lahir di
tengah penjajahan bangsa asing di wilayahnya, atau R.A. Kartini yang lahir
sebagai pahlawan bagi kemerdekaan berpikir di tengah belenggu adat dan tradisi.
Keduanya tercatat sebagai pahlawan nasional Indonesia, yang berjibaku dengan
problem dan karakter situasi masing-masing. Contoh lainnya adalah bagaimana
perjalanan Soekarno, Hatta, dan Sjahrir dalam merealisasikan kemerdekaan
Indonesia, di tengah peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Kemerdekaan
Indonesia juga dapat dikatakan sebagai muara pertemuan takdir bagi ketiga tokoh
tersebut. Sebab, masing-masing mereka punya cerita perjuangan masing-masing.
Lantas
bagaimana dengan kita hari ini? Adakah kesempatan bagi kita untuk menjadi
pahlawan seperti mereka? Tentunya kita bisa jadi pahlawan dengan jalan
masing-masing. Sebab, setiap zaman memilik karakteristik dan tantangan
masing-masing. Pula halnya dengan saat ini, zaman serba digital ini. Tantangan
baru merambah pada berbagai aspek kehidupan. Dunia berubah, pola perilaku dan
pola pikir manusia juga telah berubah. Kendatipun ancaman tidak datang dalam
bentuk serangan senjata, kita sebenarnya diintai berbagai dampak negatif dari
sisi lainnya, misalnya terbukanya jalur-jalur informasi yang masif melalui
internet. Selain membuat hidup jadi serba mudah, banyak hal negatif yang
mengintai kita. Misalnya, persebaran hoax, jual beli data pribadi, peretasan,
dan hal-hal buruk lainnya.
Bisakah
kita jadi pahlawan? Tentu bisa. Kita bisa berkontribusi secara nyata. Dimulai
dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Tidak perlu melakukan hal-hal
berat dan besar yang berujung jadi awang dan angan. Kita bisa melakukan hal-hal
sederhana, sesimpel membuang sampah di tempat yang seharusnya. Bukankah saat
ini masih begitu banyak orang yang tidak peduli pada kebersihan lingkungan?
Bahkan, mereka masih abai dan seenaknya membuang sampah sembarangan.
Banyak
hal baik yang bisa kita lakukan di tengah pelik cerita hidup ini. Melaksanakan
tugas dan pekerjaan sebaik-baiknya, berbuat baik pada tetangga, menolong orang
yang sedang kesusahan, mengijaukan lingkungan rumah dengan menanam pohon-pohon
hias, dan hal-hal lain yang sebetulnya begitu mudah dilakukan.
Jadi,
sampailah kita pada pertanyaan, hal baik apa sajakah yang telah kita berikan
untuk bangsa ini? Sejauh apakah usaha kita untuk mengoptimalkan seluruh potensi
yang dimiliki? Dapatkah kita menjadi pahlawan? Jawabannya, iya. Kita bisa jadi
pahlawan, dengan cara kita, dengan jalan kita. Dengan seluruh potensi yang kita
miliki, dengan segala kerelaan hati, kita bisa jadi pahlawan dengan langkah
kita sendiri.
Mungkin
sepanjang hidup ini, kita tidak akan pernah mendapatkan gelar pahlawan nasional
yang kepahlawanannya diselebrasikan setiap tahun. Tapi percayalah, kita adalah
pahlawan-pahlawan kecil yang memiliki daya untuk membuat perubahan, walau hanya
perubahan kecil dalam diri kita. Meski tidak dinobatkan sebagai pahlawan, kita
bisa jadi pahlawan bagi diri kita, dan orang-orang di sekitar kita. Tetaplah
menjadi orang yang baik. Selamat memperingati Hari Pahlawan Nasional 2025.
Berpijarlah
walau hanya sebagai pijaran kecil. (BuWas)
-
there are no comments yet
